![]() |
| foto ilustrasi |
Teruntuk teman2ku yang sudah menjadi istri, yang sudah menikah lama ataupun baru menikah, juga untuk si lajang yang sedang bersiap menjadi calon istri. Judul diatas adalah gubahan dari
judul “Memerintah Istri, Mempengaruhi Suami” yang saya kutip dari sebuah
Majalah Aitam edisi 13, hal.28-29. Saat membuka halaman per halaman, mata langsung
tertuju pada judul yang menarik itu. Awalnya saya tidak paham maksud judulnya,
tapi dengan membaca tagline nya saya jadi ingin membacanya,
“Laki-laki itu sulit membujuk
istri untuk mengubah keyakinan atau keinginan tertentu, karena itu
pendekatannya bukan lagi bujukan, melainkan otoritas perintah atau larangan. Sebaliknya
istri mudah membujuk suami merubah pendapat atau keyakinannya, namun akan
mengalami kesulitan jika menggunakan nada perintah atau larangan.”
Karakter wanita adalah jiwa yang
lembut, ingin disayang, dan didengarkan. Namun pada saat yang sama, wanita
ingin melihat karakter laki-laki sebagai seorang yang tegas, tidak plin-plan. Wanita
akan tunduk pada laki-laki yang romantis namun tegas berwibawa.
![]() |
| foto ilustrasi |
Bagi wanita, zakat mall lebih
menyilaukan mata daripada Zakat Mal, apalagi saat hujan diskon. Disini, peran
laki-laki diperlukan sebagai pemimpin rumah tangga, menimbang-nimbang mana
barang yang benar-benar dibutuhkan bukan sekedar luapan sesaat. Laki-laki harus
tegas dalam hal ini, dan tidak bisa hanya dengan membujuknya. Yang harus
dilakukan suami adalah bertindak tegas dengan mengatakan “Tidak !”. Dan
resikonya mungkin istri anda akan cemberut.
Di suatu hari, saat menyadari
kesalahannya, si Istri akan berterimakasih pada suami yang tegas atas
larangannya tempo hari. Bahwa keinginannya bukanlah suatu kebutuhan, melainkan
keinginan sesaat. Istri akan merasa punya sandaran jika suami bisa bersikap
tegas terhadap hal-hal yang kurang baik bahkan
buruk yang dilakukan istri.
Namun jika suami selalu
mengiyakan kemauan istri, biasanya si wanita merasa tidak punya sandaran dan
pegangan, wanita merasa tidak punya pemimpin yang memerintahnya dan melarangnya
melakukan sesuatu. Dan dampaknya ia bisa melakukan apapun semaunya. Allah
mengisyaratkan dalam Qur’an An-Nisa 34, “Wanita-wanita yag kamu khawatir
penyimpangannya (nusyuz) maka nasehatilah mereka.”
Jika ada istri yang nusyuz dalam rumah
tangga, maka jalan nasehat diutamakan bukan bujuk rayu. Nasehat adalah ungkapan
dari yang lebih tinggi derajatnya ke lebih rendah derajatnya. Dan Nasehat ini
tidak boleh dilakukan istri ke suami. Bagaimana jika suami yanng nusyuz ? maka yang
harus dilakukan istri adalah mengambil jalan damai. Yaitu dengan menyuguhkan
layanan terbaik kemudian mengajaknya bicara.
Karakter laki-laki ingin
dihormati dan pantang direndahkan oleh wanita. Dia ingin ditinggikan dan
diistimewakan wanita. Karena karakter inilah laki-laki diberi amanah oleh Allah
untuk memimpin rumah tangga. Jadi bukan yang tinggi atau rendah jabatan,
pangkat, kelulusannya, atau pendapatannya. Laki-laki sangat senang jika nasehatnya
diikuti istrinya. Namun kelemahan laki-laki ada pada bujuk rayu wanita.
Jika suami telah membuat
keputusan dan istri tidak setuju, janganlah memperlihatkannya dalam bentuk
kata-kata secara langsung apalagi dengan kata perintah atau larangan. Misal suami
ingin Lebaran di kota sendiri, sedangkan istri juga ingin Lebaran di kampung
halamannya, lalu istri mengatakan “ Tidak ! Lebaran di rumah ibu lebih baik
karena aq jarang bertemu ibu. Pokoknya kita harus pulang kampung !!”. Kata-kata
itulah yang mengundang pertengkaran di rumah. Istri tidak bisa menggunakan
otoritas perintah untuk menekan suami mengubah keputusannya. Yang dilakukan
istri sudah dijelaskan diatas yakni dengan menyuguhkan layanan terbaik kemudian
mengajaknya bicara. Tidak boleh menggunakan cara nasehat kepada suami. Betapa
sering kita lihat pertengkaran keluarga sering terjadi karena istri menggunakan
otoritas perintah atau nasehat.
Demikianlah semoga apa yang saya
tulis dapat bemanfaat bagi orang banyak. Dan meminimalisir KDRT. Tidak ada yang
disalahkan, diri sendiri wajib instropeksi agar kemungkinan buruk tidak terjadi
di kehidupan kita nantinya.
Waallahua’lam Bishawwab.
![]() |
| foto ilustrasi |
Daftar Pustaka :
Oleh
Adhan Sanusi Lc, Diambil Dari Majalah Al-Falah Malang Edisi September 2014,
Majalah Aitam Edisi 13.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar